Kebahagiaan Masokis pada Perempuan Muda dan Anak Perempuan di Media

kebahagiaan masokis

Perempuan sudah menjadi milik sosial sejak dia lahir. Dia tidak bisa mengerti dirinya selain dari pemahaman orang lain. Formasi ini dimulai dari tingkat keluarga, teman, sekolah, dan juga dipengaruhi oleh media. Dalam jaman modern ini, media telah memperluas ruang lingkup mereka ke dalam jaringan sosial melalui internet, dan membuat lebih mudah untuk penyebaran informasi. Implikasi dari teknologi modern ini lebih berpengaruh terhadap perempuan. Stigma pada citra perempuan dibangun sejak kecil untuk menciptakan kesadaran palsu-menerima kebahagiaan masokis.

Kebahagiaan Masokis pada Perempuan di Media

Studi media feminis muncul sebagai bentuk pendekatan budaya populer yang memiliki proyek politik dalam feminisme. Studi media feminis telah mengikuti dan sekaligus menyebabkan perdebatan teoritis feminis secara umum. Feminisme telah bergerak dari fokus pada represi perempuan pada umumnya dan secara politik yang berdasarkan pada konsep pengalaman perempuan, sebagai bentuk pengakuan atas perbedaan dalam kategori “perempuan” yang menghilangkan kemungkinan dari kebenaran tunggal.

Hal ini bergerak dari konsep kesamaan menuju perbedaan yang dapat dipetakan melalui kritik dalam politik representasi. Perkembangan ini belum muncul secara langsung tetapi telah mengakibatkan kompleksitas dalam media, representasi, dan konsumsi.

Charlotte Brundson dalam Feminist Television Criticism (1997), menyatakan bahwa studi media feminis menolak ideologi dan saintisme studi media dari sejarawan televisi, peneliti penonton, dan analis politik yang masih didominasi oleh pemikiran laki-laki dan metode empiris/positivis. Ide perbedaan-seksual, ras, etnis, dan lain-lain sangat dekat dengan feminisme, meringankan perlawanan terhadap metode dan kebenaran universal.

Kebahagiaan masokis muncul ketika pencitraan perempuan terdeterminasi dengan ciri-ciri tertentu, seperti tubuh langsing, rambut lurus, kulit putih, dan lain-lain, yang menuntut perempuan untuk menderita dan berkorban demi mencapai “kesempurnaan”.  Pencitraan ini berasal dari perspektif maskulin dalam media. Tidak ada ruang bagi perempuan untuk menciptakan identitas mereka sendiri.

Helen Haste, dalam The Sexual Metaphor (1994), menyatakan bahwa ada tipe citra perempuan yang ideal: perawan dan istri yang baik, yang telah diciptakan oleh perspektif maskulin. Jenis pencitraan ini telah dirumuskan dalam media seperti acara televisi, majalah, dan iklan. Banyak idola yang dijadikan sebagai contoh perempuan ideal, sehingga banyak perempuan muda dan anak perempuan berusaha menjadi seperti mereka-sebagai kesempurnaan dalam hidup mereka.

Perempuan muda dan anak perempuan di Indonesia juga terbentuk dari pencitraan media. Survey Jurnal Perempuan pada tahun 2004 dalam “Remaja Putri Melek Media” menunjukkan bahwa perempuan muda di Jakarta sangat dipengaruhi oleh referensi majalah remaja dan televisi. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka berada dalam posisi ambigu.

Hasil penelitian menunjukkan meskipun para perempuan muda ini memiliki sikap sendiri akan gaya hidupnya, tetapi mereka tidak memiliki pilihan sehingga mengikuti begitu saja tawaran yang disosialisasikan oleh media. Misalnya, mereka mungkin tidak setuju dengan pencitraan di media, tetapi ketika mereka ditanya tentang penggunaan kosmetik, kebanyakan dari mereka menjawab bahwa mereka juga menggunakan kosmetik tersebut untuk membentuk penampilan mereka.

Melalui media, ada seperangkat nilai-nilai yang dipromosikan ke ukuran ideal perempuan. Konsep mengenai perempuan dalam media seperti di televisi dan majalah memasuki realitas dan terinternalisasi dalam pikiran dan tindakan para perempuan muda.

Media dalam konteks ini memainkan peran utama dalam wacana tertentu yang ideal di ruang publik. Iklan juga mencitrakan ulang tubuh perempuan- dimulai dari yang muda-dengan segala macam produk. Definisi kecantikan menjadi lebih politis dalam kehidupan para perempuan muda dan anak perempuan. Hanya ada satu definisi kecantikan berdasarkan kontrol media.

Pengaruh definisi universal dari kecantikan adalah ketidakpercayaan diri. Hal ini mampu menciptakan sebuah pikiran diskriminatif sebagai bentuk kekerasan. Pengorbanan ini kemudian menjadi tindakan masokis perempuan dan membuat jarak yang lebih jauh pada perempuan sebagai subjek di media.

Media harus memaksimalkan perannya bukan sebagai tempat untuk membentuk citra stereotip perempuan, tetapi untuk mengangkat isu-isu yang berhubungan dengan isu-isu perempuan. Ada banyak masalah perempuan muda dan anak perempuan di Indonesia yang dapat diangkat, seperti eksploitasi seksual, kekerasan, trafficking, pendidikan seks, dan banyak lagi. Bahkan, media di Indonesia belum melakukan apa-apa untuk membantu melindungi hak-hak perempuan.

Hak ini harus dipahami oleh media, antara lain, untuk menyebarkan informasi yang tepat, untuk meningkatkan kepercayaan diri, bebas dari diskriminasi, terlindung dari pelecehan, kekerasan dan eksploitasi seksual, pendidikan untuk semua, dan banyak lagi cara yang positif untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, khususnya dalam konteks bagi perempuan muda dan anak perempuan.

Jika media menyebarkan informasi semacam ini tanpa mencampuradukkannya dengan nilai perspektif maskulin, hal itu akan menjadi cara yang objektif dalam penyebaran informasi. Penjaminan hak-hak perempuan muda dan anak perempuan tidak dapat begitu saja terjadi tanpa bantuan media, karena walaupun sebelumnya media turut berperan dalam membentuk pencitraan perempuan, kita harus mengakui bahwa media adalah cara yang sangat strategis untuk berbagi isu-isu perempuan.


Baca juga artikel terkait yang bisa mendalami tentang topik sosial lainnya di platform kami:


Di banyak negara, pemerintahnya telah mewajibkan media untuk mengalokasikan iklan layanan masyarakat yang ditujukan untuk mendidik masyarakat mengenai berbagai isu-isu perempuan, seperti pesan anti kekerasan, stop pelecehan seksual, menghentikan perdagangan manusia (trafficking), dan banyak lagi.

Sayangnya di Indonesia, media belum digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan semacam ini. Media lebih banyak digunakan untuk kepentingan komersial dan membuat banyak perempuan muda dan anak perempuan sebagai korban dari kebahagiaan masokis oleh “ideal image”.

Masyarakat sendiri juga lupa bahwa mereka harus melindungi kepentingan dan hak-hak perempuan muda dan anak perempuan dari kekerasan dalam media. Bahkan jika diperlukan, seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain, pemerintah dapat mengintervensi melalui berbagai peraturan untuk melindungi perempuan dan anak dari efek negatif media. Sehingga perempuan muda dan anak perempuan tidak akan lagi terjebak dalam kebahagiaan masokis dan mereka dapat hidup mandiri sebagai diri mereka sendiri, sebagai subjek dalam kehidupan mereka sendiri, termasuk dalam media.

Penulis: Ikhaputri Widiantini

 

Kebahagiaan Masokis pada Perempuan Muda dan Anak Perempuan di Media

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *