Pola Asuh Otoriter dan Hardiness

Pola Asuh Otoriter dan Hardiness

Salah satu faktor yang mendasari terbentuknya kepribadian seseorang adalah lingkungan. Faktor lingkungan yang turut mempengaruhi kepribadian antara lain keluarga, budaya, dan sekolah. Keluarga dipandang sebagai penentu utama dalam pembentukan kepribadian anak karena merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak dan anak banyak menghabiskan waktunya dilingkungan keluarga.

Dalam sebuah keluarga yang bertanggung jawab dan mempunyai peran penting untuk mengasuh serta mendidik anak adalah orang tua, sehingga orang tua dalam hal ini ayah dan ibu akan menerapkan pola asuh yang dianggap sesuai untuk diterapkan pada anaknya. Pola asuh orang tua merupakan gambaran orang tua yang dipakai untuk mengasuh (merawat, menjaga, dan mendidik) anaknya. Ada tiga jenis pola asuh orang tua, yaitu Pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh permisif.

Orang tua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagi ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Orang tua mempunyai akses dan kendali yang cukup besar dalam mendidik dan membesarkan anak.

Orang tua mempunyai peran penting dalam membatasi ruang gerak dan kemauan anak yang mengarah pada tindakan negatif sehingga anak tetap berada pada perilakunya yang secara normative dianggap baik, sehingga dalam hal ini orang tua memerlukan kontrol untuk mengarahkan anaknya dalam setiap aktivitas dan kegiatannya.

Pola Asuh Orang Tua Otoriter

Orangtua otoriter memandang penting terhadap kontrol dan kepatuhan tanpa syarat. Mereka mencoba membuat anak menyesuaikan diri dengan serangkaian standar perilaku dan menghukum mereka dengan keras atas pelanggaran yang dilakukan. Pola asuh otoriter menempatkan orangtua sebagai pusat dan pemegang kendali.

Orangtua melakukan kontrol yang ketat terhadap anak yang didasarkan kepada nilai-nilai yang dipercayai absolut kebenarannya. Pola asuh otoriter adalah gaya yang bersifat membatasi dan menghukum, di mana orang tua mendesak anaknya agar mengikuti pengarahan mereka serta menghormati pekerjaan dan jerih payah mereka.

Pola asuh otoriter bersifat sentral artinya segala ucapan, perkataan, maupun kehendak dari orang tua dijadikan patokan (aturan) yang harus ditaati oleh anak-anaknya. Pola asuh orang tua yang cenderung otoriter dengan memaksakan seluruh kehendaknya dan tidak memberikan pilihan pada anaknya untuk memilih apa yang ia mau sehingga menjadikan anak merasa tertekan.

Orang tua otoriter selalu menetapkan aturan dan panduan agar anak mengikutinya tanpa mempertanyakan baik dan buruknya, bila mereka gagal melakukan sesuatu maka akan dikenakan hukuman.

Pola asuh otoriter bukan merupakan metode dalam mendidik anak namun hanya sebagai klasifikasi dari gaya orang tua yang mendidik anaknya, maka dari itu orang tua dan anak dalam hal ini cenderung mempunyai persepsi yang berbeda, artinya bisa saja anak merasa orang tuanya menerapkan pola asuh otoriter namun orang tuanya merasa hanya memberikan ketegasan agar anaknya dapat disiplin dalam melakukan tugasnya.

Pola Asuh Otoriter terhadap Hardiness

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter akan kehilangan kesempatan untuk menentukan apa yang dia inginkan karena orang tua membatasi dan mengatur segala kebutuhannya. Terdapat sumber kekuatan dalam diri individu dalam menghadapi stres yang disebabkan oleh tekanan lingkungan sekitar yang disebut hardiness.

Hardiness merupakan karakteristik kepribadian yang terbentuk oleh tiga unsur yaitu tantangan, kontrol, dan komitmen yang berfungsi sebagai mediator untuk mengatasi efek stres karena situasi yang berubah-ubah dan fakta-fakta kehidupan yang menyebabkan stress.

Hardiness melibatkan kemampuan memanipulasi sudut pandang sehingga dapat mengubah stressor yang negative menjadi tantangan yang positif. Karakter Hardiness mempunyai pengaruh yang positif pada berbagai status individu dan berfungsi sebagai sumber perlawanan pada saat individu menemui kejadian yang menimbulkan stres.

Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian tentang kontribusi hardiness dan self-efficacy terhadap stres kerja pada perawat dimana hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara hardiness dengan stres kerja yang artinya dimana semakin tinggi hardiness yang dimiliki maka akan semakin rendah stres kerja yang dirasakan.

Individu yang memiliki tingkat hardiness yang tinggi memiliki sikap yang membuat mereka lebih mampu dalam melawan stres. Individu dengan hardiness tinggi percaya bahwa mereka dapat mengontrol atau mempengaruhi kejadian-kejadian dalam hidupnya.

Mereka secara mendalam berkomitmen terhadap pekerjaannya dan aktivitas-aktivitas yang mereka senangi, dan mereka memandang perubahan sebagai sesuatu yang menarik dan menantang lebih dari pada sebagai sesuatu yang mengancam.

Sebaliknya, kurangnya hardiness dalam diri individu dapat dihubungkan dengan tingkat stres yang tinggi. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hardiness berhubungan dengan sedikitnya distres psikologi, meningkatnya kebahagiaan dan penyesuaian.

 

Pola Asuh Otoriter dan Hardiness

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *