INSANOKE Dan Visi Negara Industri Tangguh 2035

INSANOKE Dan Visi Negara Industri Tangguh 2035

Membangun negara industri tangguh tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang ada di negara itu sendiri. Negara industri tangguh hanya dapat dibentuk oleh masyarakat industri yang tangguh pula. Pembangunan industri Indonesia memiliki visi yaitu “menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh” pada tahun 2035. Visi ini bukanlah suatu hal yang baru.

INSANOKE Dan Visi Negara Industri Tangguh 2035

Pada tahun 1990-an, tingkat pertumbuhan industri di atas pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi di atas 30% terhadap PDB. Dengan struktur ekonomi yang kuat ketika itu, Indonesia pernah dijuluki sebagai Macan Asia.

Setelah terjadi krisis moneter pada tahun 1998, pertumbuhan industri dan juga pertumbuhan ekonomi sempat terpuruk. Setelah reformasi, pertumbuhan industri secara bertahap kembali membaik dan mulai memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terakhir tercatat, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 sebesar 5,01%, sedangkan angka pertumbuhan industri non – migas sebesar 3,96% dengan kontribusi 17,94% terhadap PDB.

Jika dibandingkan dengan target pertumbuhan sektor industri nonmigas pada tahun 2035 yang sebesar 10,5% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 30%, maka upaya untuk menjadi negara industri tangguh tahun 2035 perlu dilipatgandakan. Terlebih, tantangan yang dihadapi akan semakin kompetitif.

Membangun negara industri tangguh tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang ada di negara itu sendiri. Negara industri tangguh hanya dapat dibentuk oleh masyarakat industri yang tangguh pula. Kita bisa lihat bagaimana Jepang, Korea Selatan, dan China yang berhasil membangun negaranya menjadi negara industri yang tangguh dengan terlebih dulu membentuk mental dan budaya masyarakat yang selaras dengan budaya industri itu sendiri.

Dengan demikian, untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai negara industri tangguh tahun 2035, maka perlu dilakukan suatu proses percepatan transformasi masyarakat Indonesia yang menjadi aktor pembangunan industri.

Untuk mentransformasi masyarakat Indonesia menjadi masyarakat industri tangguh, maka peran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sangat dibutuhkan. Kebijakan dan program Kemenperin yang bersentuhan langsung dengan masyarakat industri harus memiliki multiplier effect, tidak hanya berdampak pada pembangunan industri tetapi juga pembentukan budaya masyarakat industri.

MEMBENTUK MASYARAKAT INDUSTRI

Pada hari Rabu, 25 Mei 2016 lalu, Kemenperin telah mencanangkan 5 Nilai Kemenperin, yaitu: Integritas, Profesional, Inovatif, Produktif, dan Kompetitif, yang disingkat dengan INSANOKE.

Kelima nilai INSANOKE digali dari sejarah, misi, dan tujuan Kemenperin sebagai instansi pemerintah yang bertugas membangun, mengembangkan, dan membina sektor industri di tanah air.

INSANOKE diibaratkan sebuah bangunan dengan pondasinya adalah integritas, pilarnya adalah profesional, inovatif, dan produktif, serta sebagai atapnya adalah kompetitif.

Nilai integritas dimaknakan sebagai adanya keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan aparatur dengan tujuan organisasi dan tidak bertentangan dengan norma serta aturan yang berlaku. Semakin kuat integritas dalam diri aparatur, maka semakin kuat pondasi INSANOKE tersebut.

Nilai profesional adalah bekerja memenuhi amanat jabatan dengan kompetensi terbaik. Nilai inovatif adalah perbaikan proses kerja secara terus-menerus dan menghasilkan nilai tambah dalam pekerjaannya. Dan nilai produktif adalah pengelolaan kerja yang efektif dan efisien serta berorientasi pada kepuasan pelanggan.

Ketiga nilai ini tampak pada aparatur ketika melaksanakan pekerjaannya. Dilandasi dengan integritas, jika ketiga nilai tersebut diamalkan dengan baik akan menghasilkan nilai kompetitif.

Nilai kompetitif dimaknakan sebagai mengenali, menggunakan, dan mengembangkan segala potensi yang ada di dalam diri aparatur untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik. Nilai kompetitif dapat ditegakkan apabila ditopang oleh tiga pilar (profesional, inovatif, dan produktif) yang berdiri di atas pondasi (integritas) yang kokoh.

INSANOKE akan menjadi motivasi yang menggerakkan setiap aparatur untuk menunjukkan kinerja yang terbaik, inspirasi pada setiap aparatur untuk menghasilkan karya terbaik dan regulasi diri untuk mengarahkan dan mengendalikan perilakunya dalam bekerja dan melayani masyarakat.

Sebagai perekat internal, INSANOKE diharapkan dapat menjadi nilai yang diyakini bersama (shared values) seluruh aparatur Kemenperin. Dengan begitu, koordinasi pada segala tingkatan dan antar unit kerja di lingkungan Kemenperin dapat semakin kuat. Kondisi inilah yang menjadi prasyarat untuk mencapai kinerja organisasi yang optimal dan menghasilkan kebijakan dan program yang efektif dan berdampak kuat dalam pembangunan industri

Sebagai perekat eksternal, INSANOKE diharapkan dapat membentuk citra positif (branding) Kemenperin bagi masyarakat industri yang dilayaninya, serta menjadi semangat bersama antara pemerintah dan masyarakat industri untuk membangun kerja sama yang baik membangun industri.

MENGHIDUPKAN NILAI INSANOKE DI KEMENPERIN

Setidaknya ada empat hal yang perlu dipenuhi untuk menghidupkan nilai INSANOKE di Kemenperin. Pertama, adanya dukungan penuh dari jajaran pimpinan Kemenperin sebagai role model dalam implementasi kelima nilai tersebut.

Dukungan pimpinan dengan menjadi role model akan berdampak positif pada perilaku pegawai yang ada dalam pembinaannya. Pegawai akan lebih mudah menerima dan mengikuti apa yang dicontohkan pimpinannya. Selain itu, dukungan pimpinan akan memperlancar pelaksanaan program dan kegiatan pengembangan INSANOKE itu sendiri.

Kedua, adanya agen-agen perubahan yang mengakselerasi pengembangan kelima nilai tersebut pada seluruh unit kerja Kemenperin. Agen perubahan adalah mitra strategis pimpinan dalam melakukan pengembangan INSANOKE dalam kesehariannya. Agen perubahan melakukan berbagai kampanye, memfasilitasi, dan memonitor proses pengembangan INSANOKE yang terjadi kepada pimpinan.

Ketiga, adanya kebijakan dan program serta kegiatan yang terkelola dengan baik untuk mendukung pengembangan kelima nilai tersebut. Tanpa dasar legalitas yang kuat dalam bentuk kebijakan dan program yang sistematis, maka pengembangan INSANOKE akan jalan di tempat, yang tentu saja tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Keempat, sistem kerja yang mendukung untuk pengembangan kelima nilai tersebut baik di tingkat individu, unit kerja, dan kementerian. Ketika sistem kerja dapat diarahkan untuk memperkuat perilaku yang mencerminkan kelima nilai INSANOKE, maka akan tercipta mata rantai antara manu- sia, sistem, dan kepemimpinan yang efektif.

Dengan demikian, pro- gram pengembangan INSANOKE akan berlangsung secara berkesinambungan dan INSANOKE akan tertanam kuat dalam diri setiap aparatur Kemenperin.

MEMBENTUK MASYARAKAT INDUSTRI DENGAN INSANOKE

Persentuhan Kemenperin dengan masyarakat industri terjadi dalam tiga area. Untuk itu, pengembangan INSANOKE dalam membentuk masyarakat industri dapat dilakukan melalui ketiga area tersebut.

Pertama, area perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Di area ini, pengembangan INSANOKE kepada masyarakat industri dapat dilakukan dengan meningkatkan keterlibatan mereka dalam perumusan kebijakan, kemudian menyaring berbagai masukan dengan memasukkan INSANOKE sebagai salah satu kriteria pertimbangannya.

Kedua, area pelayanan publik (informasi publik, jasa pengujian standar, jasa litbang, dsb). Di area ini, INSANOKE dapat dikembangkan dalam bentuk standar pelayanan publik dan berbagai bentuk publikasi yang memiliki konten INSANOKE. Dengan begitu, masyarakat akan terbiasa “berinteraksi” dengan kelima nilai tersebut.

Ketiga, area pengembangan SDM Industri (pelatihan dan pendidikan). Area ini adalah area yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Salah satunya dengan membuat kurikulum penanaman nilai INSANOKE yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat pendidikan dan pelatihan yang diberikan. Sehingga, hasil lulusan pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan Kemenperin sudah mengenal, meyakini dan siap mengamalkan kelima nilai tersebut ketika bekerja di sektor industri.

Harapan terhadap pengembangan INSANOKE adalah untuk meningkatkan engagement internal dan engagement eksternal, yang menjadi paradigma penting dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara industri tangguh di tahun 2035. Negara industri tangguh akan tercipta apabila aktor-aktor pembangun sektor industri yaitu Kemenperin dan masyarakat industri nasional memiliki ketangguhan. Inilah yang menjadi puncak dari INSANOKE, yaitu nilai kompetitif.

Oleh: Anjar Ramdhana, S.Psi. (Pegawai Ditjen PPI Kemenperin)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *