Benarkah Menggunakan PIL KB Rahim Menjadi Kering?

Menggunakan PIL KB Rahim Tidak Menjadi Kering

PARA akseptor yang menggunakan pil KB, selain terlindungi dari kehamilan, juga memperoleh berbagai keuntungan. Sementara itu gemuk, berjerawat, rahim kering, dan kanker hanya merupakan mitos dari penggunaan pil keluarga berencana (KB).

“Berat badan pemakai pil KB naik akibat pola makan yang berubah sebab ibu merasa tenang, dan tidak takut hamil lagi setelah menggunakan alat kontrasepsi,” kata spesialis obstetri dan ginekologi Prof dr Biran Affandi.

Menggunakan PIL KB Rahim Tidak Menjadi Kering

Dalam diskusi media ‘Kontroversi Pemakaian Hormon dan Pengaruhnya pada Kehidupan Wanita’ Prof Biran juga menepis anggapan bahwa pil KB mempersulit wanita untuk hamil dan melahirkan lagi karena rahimnya kering.

Padahal, tambah konsultan dari Klinik Raden Saleh di Jakarta ini menjelaskan metode kontrasepsi tersebut justru bersifat ‘reversible’ artinya paling cepat mengembalikan kesuburan.

Biran menyangkal pula pendapat bahwa pil KB mengakibatkan penggunanya berjerawat, padahal faktanya malah sebaliknya. ”Kontrasepsi oral yang modern lebih menghaluskan kulit karena mengurangi infeksi,” kilahnya.

Lebih dari itu, pihaknya pun membantah pandangan yang menilai, pil KB memicu timbulnya kanker. Ia mengemukakan sebenarnya justru menurunkan risiko kanker ovarium maupun endometrium.

Staf Subbagian Kesehatan Reproduksi, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (FKUI/RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo di Jakarta ini menyatakan pemakai pil yang dikombinasikan meraih sejumlah keuntungan.

Misalnya terdapat penurunan terbentuknya kanker ovarium maupun endometrium termasuk benjolan jinak payudara sampai dengan 40%, tumor jinak pada rahim sebesar 20%, dan kista ovarium hingga 80%.

Keuntungan lainnya, Biran menuturkan ada pula pengurangan risiko pada penyakit radang panggul, anemia, serta gejala kejang dan nyeri sebelum haid, masing-masing sampai dengan 50%. Sedangkan pada kehamilan di luar kandungan, ulasnya, risiko menurun hingga 90%.

Namun demikian, ia mengingatkan, pil sebagai kontrasepsi hormonal tidak boleh diberikan sama sekali kepada ibu hamil, selain penderita kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati, tumor kandungan, dan ‘thromboemboli’.

”Dalam kasus tertentu, boleh diberikan asal diawasi dokter,” ujar konsultan kebidanan dan kandungan itu seraya menyebutkan penggunaan relatif ini untuk ibu menyusui, selain penderita tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, ginjal, jantung, perdarahan vagina yang hebat, dan yang sensitivitasnya tinggi terhadap hormon.

Hormon androgen

Di sisi lain, spesialis kulit dan kelamin dr Tjut Nurul Alam Jacoeb menegaskan hormon androgen, yang dihasilkan dari ovarium dan terdapat pada pria, dimiliki pula oleh wanita walaupun jumlah maupun jenisnya berbeda.

Bagi wanita, ia mengungkapkan hormon tersebut memicu pertumbuhan rambut di ketiak, ‘pubis’, maupun daerah erotik lainnya, disamping mencegah osteoporosis, merangsang nafsu seksual, dan menciptakan perasaan nyaman.

Tetapi, apabila kelebihan jumlah hormon androgen pada wanita, pihaknya memastikan timbulnya kulit yang berminyak dan kasar, penipisan rambut di kepala, jerawat, pembesaran ‘klitoris’, perubahan suara, serta tumbuhnya rambut secara berlebihan di tempat yang tidak biasa.

Dalam kasus pertumbuhan rambut secara berlebihan di tempat yang tidak biasa pada wanita, staf Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di FKUI/RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo itu memperkirakan, biasanya muncul gejala hiperandrogenisme lain.

Dicontohkan, berupa kelebihan berat badan, gejala wajahnya bulat, gangguan haid, dan fisik menjadi kelaki-lakian. Namun pada ras tertentu, Tjut menandaskan pada lengan dan tungkai wanitanya berambut serta berbulu tebal.

 

Menggunakan PIL KB Rahim Tidak Menjadi Kering

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *